Akhirnya jadi juga Mudika Angela bertugas koor pada Perayaan Malam Natal 2008. Tentu selain koor, Mudika juga menyiapkan hal-hal lain, antara lain membantu mendekorasi kapel, menata kursi, dan menyiapkan area parkir, selain itu yang tak kalah penting ialah menyiapkan buku panduan misa (T-T)...
Jadi ceritanya seperti ini :
Misa malam Natal seperti biasanya menggunakan bahasa Jawa, hanya saja kelompok Koor memilih banyak lagu dari berbagai bahasa. Untuk ordinariumnya dipilih yang berbahasa Jawa menggunakan gending / gamelan, kemudian lagu-lagu berbahasa Indonesia seperti Alam Raya Karya Bapa, Natal Pertama, dll, ada juga lagu berbahasa asing seperti Transeamus. Untuk masalah ini sih bisa dibilang cukup baik, walaupun pada persiapannya banyak kendala untuk berlatih tetapi pada akhirnya hasilnya cukup baik..
Masalah muncul pada penyiapan buku panduan. Huhu, sebenarnya saya tidak mau membahas ini, tapi tidak mengapalah, karena memang kenyataannya seperti itu, semoga tidak ada yang tersinggung, ini murni bukan kesalahan kita kok....
Seperti biasa, pada bagian belakang buku panduan pasti terdapat ucapan-ucapan selamat Natal dan tahun baru serta iklan-iklan dari umat. Untuk pengumpulan data ini, wilayah kerja dibagi perlingkungan, jadi ada 6 lingkungan, dimana semuanya dikerjakan oleh Mudika Angela. Cukup banyak umat yang ingin memasang ucapan Selamat Natal ataupun iklan, hanya beberapa orang yang komplain karena pada Natal tahun lalu juga memasang ucapan namun ternyata tidak tercetak pada buku panduan, ya ini bisa dimaklumi. Hal ini berjalan cukup lancar dan data-data dari setiap lingkungan terkumpul di tangan editor tepat pada waktunya ( bener ga ni Dit, Nico, hehe...).
Segera setelah proses editing selesai, segera masuk ke percetakan. Di sini orang percetakan menjanjikan buku akan selesai pada hari Senin atau Selasa (22/23 Des). Pada hari yang dijanjikan, editor berusaha menghubungi percetakan untuk menanyakan tentang buku panduan, tetapi pihak yang bersangkutan tidak dapat dihubungi. Sampai H-1 tetap tidak bisa menghubungi percetakan, dan akhirnya pada hari H (tgl 24 Des), editor (Adit dan Nico) mendatangi percetakan tersebut, dan alangkah terkejutnya mereka karena ternyata buku panduan belum selesai dicetak, masih dalam ukuran kertas yang besar, belum dipotong-potong, apalagi dijadikan satu buku. Ibu yang di percetakan malah bilang kalau bukunya akan selesai pada jam 6 sore ( GUNDULmu!!!, pikir saya saat mendengar cerita itu). Huh, akhirnya daripada marah-marah dan buku panduan tidak jadi, Adit dan Nico dengan memanggil bala bantuan (Mb. Yana dan Wiwid) ikut menyelesaikan buku panduan tersebut. Mereka berempat bekerja rodi untuk menyelesaikannya.
Sampai sekitar jam 5, tetap saja buku panduan belum selesai, akhirnya Mb Yana dan Wiwid (ihiiii!!!) memutuskan untuk membawa 100 eksemplar terlebih dahulu untuk dijual di kapel. Tentu saja jumlah itu jauh dari pada cukup. Akhirnya dengan segala daya upaya buku panduan tetap dapat dibawa ke kapel tetapi sudah terlambat...alhasil, banyak sekali buku yang tidak terjual, hanya sekitar separo dari 500 eksemplar yang terjual. Huhuhuhu... menyedihkan sekali, bukan karena jumlah yang terjual hanya sedikit, tapi karena begitu kerasnya dan sangat menyakitkan hati usaha untuk menyelesaikan buku panduan itu.
Kembali saya ingin mengucapkan umpatan ke percetakan yang bersangkutan. Dasar percetakan sontoloyo!!! Mau diselesaikan jam 6, padahal misa dimulai jam 6 (Gundulmu!!!).....
Yah, tapi alangkah lebih baiknya kalau ini dievaluasi (duh mikir kata ini kok susah banget sih, hehe), agar pada kesempatan selanjutnya tidak terjadi kesalahan serupa.
Masih ada beberapa hal mengenai Natal tahun ini yang belum diceritakan, tapi karena keterbatasan daya saya, maka belum bisa menampilkannya pada saat ini.
Hope, next time will be better.
Merry X-mas for all!!
Jadi ceritanya seperti ini :
Misa malam Natal seperti biasanya menggunakan bahasa Jawa, hanya saja kelompok Koor memilih banyak lagu dari berbagai bahasa. Untuk ordinariumnya dipilih yang berbahasa Jawa menggunakan gending / gamelan, kemudian lagu-lagu berbahasa Indonesia seperti Alam Raya Karya Bapa, Natal Pertama, dll, ada juga lagu berbahasa asing seperti Transeamus. Untuk masalah ini sih bisa dibilang cukup baik, walaupun pada persiapannya banyak kendala untuk berlatih tetapi pada akhirnya hasilnya cukup baik..
Masalah muncul pada penyiapan buku panduan. Huhu, sebenarnya saya tidak mau membahas ini, tapi tidak mengapalah, karena memang kenyataannya seperti itu, semoga tidak ada yang tersinggung, ini murni bukan kesalahan kita kok....
Seperti biasa, pada bagian belakang buku panduan pasti terdapat ucapan-ucapan selamat Natal dan tahun baru serta iklan-iklan dari umat. Untuk pengumpulan data ini, wilayah kerja dibagi perlingkungan, jadi ada 6 lingkungan, dimana semuanya dikerjakan oleh Mudika Angela. Cukup banyak umat yang ingin memasang ucapan Selamat Natal ataupun iklan, hanya beberapa orang yang komplain karena pada Natal tahun lalu juga memasang ucapan namun ternyata tidak tercetak pada buku panduan, ya ini bisa dimaklumi. Hal ini berjalan cukup lancar dan data-data dari setiap lingkungan terkumpul di tangan editor tepat pada waktunya ( bener ga ni Dit, Nico, hehe...).
Segera setelah proses editing selesai, segera masuk ke percetakan. Di sini orang percetakan menjanjikan buku akan selesai pada hari Senin atau Selasa (22/23 Des). Pada hari yang dijanjikan, editor berusaha menghubungi percetakan untuk menanyakan tentang buku panduan, tetapi pihak yang bersangkutan tidak dapat dihubungi. Sampai H-1 tetap tidak bisa menghubungi percetakan, dan akhirnya pada hari H (tgl 24 Des), editor (Adit dan Nico) mendatangi percetakan tersebut, dan alangkah terkejutnya mereka karena ternyata buku panduan belum selesai dicetak, masih dalam ukuran kertas yang besar, belum dipotong-potong, apalagi dijadikan satu buku. Ibu yang di percetakan malah bilang kalau bukunya akan selesai pada jam 6 sore ( GUNDULmu!!!, pikir saya saat mendengar cerita itu). Huh, akhirnya daripada marah-marah dan buku panduan tidak jadi, Adit dan Nico dengan memanggil bala bantuan (Mb. Yana dan Wiwid) ikut menyelesaikan buku panduan tersebut. Mereka berempat bekerja rodi untuk menyelesaikannya.
Sampai sekitar jam 5, tetap saja buku panduan belum selesai, akhirnya Mb Yana dan Wiwid (ihiiii!!!) memutuskan untuk membawa 100 eksemplar terlebih dahulu untuk dijual di kapel. Tentu saja jumlah itu jauh dari pada cukup. Akhirnya dengan segala daya upaya buku panduan tetap dapat dibawa ke kapel tetapi sudah terlambat...alhasil, banyak sekali buku yang tidak terjual, hanya sekitar separo dari 500 eksemplar yang terjual. Huhuhuhu... menyedihkan sekali, bukan karena jumlah yang terjual hanya sedikit, tapi karena begitu kerasnya dan sangat menyakitkan hati usaha untuk menyelesaikan buku panduan itu.
Kembali saya ingin mengucapkan umpatan ke percetakan yang bersangkutan. Dasar percetakan sontoloyo!!! Mau diselesaikan jam 6, padahal misa dimulai jam 6 (Gundulmu!!!).....
Yah, tapi alangkah lebih baiknya kalau ini dievaluasi (duh mikir kata ini kok susah banget sih, hehe), agar pada kesempatan selanjutnya tidak terjadi kesalahan serupa.
Masih ada beberapa hal mengenai Natal tahun ini yang belum diceritakan, tapi karena keterbatasan daya saya, maka belum bisa menampilkannya pada saat ini.
Hope, next time will be better.
Merry X-mas for all!!

8 komentar:
Wah Natal kemaren memang menjadi catatan pahit Mudika yang belum pernah dialami sebelumnya. Semoga saja semua bisa diambil hikmahnya dan tidak terulang lagi.
Harapannya untuk ke depan Mudika bisa menggunakan teknologi terbaru yang lebih menguntungkan.
Merry Christmas
sudahlah gak erlu dipikirin........
semanagt aja buat semuanya!!!!!!
Hiks plis deh.. Aq ga mau ikutan kerja rodi lg huhu.
wakekok
Ngomong-ngomong bagaimana dengan Paskah???
Paskah?
Kita lihat pemerintahan yang baru...
Pemerintahan baru?gak yakin?yang ada paling kabur!memalukan.
Alangkah baiknya kalo blog ini sering2 di update & semua org paroki pakem bisa mengetahuinya
salam...